Sejarah dan Profil PT Waskita Karya (WSKT)

PT Waskita Karya merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi. Didirikan pada tanggal 1 Januari 1961, perusahaan yang bercikal bakal dari perusahaan Belanda bernama ‘Volker Aannemings Maatschappij NV’ ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan diresmikan dengan dikeluarkannya Keputusan no. 62 tahun 1961.

Di tahun 1973, Waskita Karya beralih status hukum menjadi Persero. Sejak saat itu, perusahaan yang mulanya hanya fokus pada pembangunan sarana perairan, mulai melakukan ekspansi ke sektor konstruksi bandara, pabrik semen, jalan raya, dan berbagai fasilitas industri lainnya.

Setelah menyelesaikan beberapa proyek bersama dengan perusahaan asing, Waskita mulai mempergunakan banyak teknologi canggih dalam proyek garapannya, lebih tepatnya sejak tahun 1980. Bandara Soekarno-Hatta, Reaktor Serba Guna Siwabessy, dan juga PLTU Muara Karang di Jakarta menjadi proyek-proyek yang berhasil diselesaikan Waskita pada waktu itu.

Dikarenakan semua usahanya untuk selalu mengutamakan kualitas, membawa perusahaan ini memperoleh sertifikasi ISO 9002:1994 pada bulan November 1995 lalu. 

Berlanjut pada bulan Juni 2013, Waskita kembali memperbaharui Sistem Manajemen Mutunya dan berhasil memboyong sertifikasi ISO 9001:2000.  

Komposisi Pemegang Saham

Secara umum, komposisi pemegang saham di Waskita dibagi menjadi 2, yakni Pemerintah Republik Indonesia dengan 66,04% dan publik dengan persentase 33,96%. Adapun untuk rincian dari kepemilikan saham tersebut ialah sebagai berikut.

Pemegang SahamJumlah Lembar SahamPersentase Kepemilikan
Pemerintah Republik Indonesia8.963.697.88766,04%
Asing1.305.260.9699,61%
Reksadana732.310.8575,39%
Asuransi234.361.9701,73%
Perseroan Terbatas819.943.9566,04%
Perorangan1.077.509.5637,94%
Dana Pensiun406.320.8462,99%
Karyawan3.643.0000,03%
Lain-lain 30.901.9520,23%
Total13.573.951.000100%

Strategi Unik Waskita dalam Membangun Infrastruktur

Waskita Karya melalui Direktur Utamanya, M Choliq, mengungkapkan jika perusahaannya memiliki strategi yang unik dalam membangun infrastruktur dan mengembangkan Badan Usaha Milik Negara tersebut.

Choliq mengaku jika perseroan lebih tertarik untuk mengakuisisi proyek-proyek swasta. Seperti misalnya saja proyek jalan tol yang digarap oleh perusahaan swasta namun mangkrak.

Foto Groundbreaking Workship Pabrikasi Baja Cikande 10 April 2019

Dalam Forum BUMN yang diselenggarakan pada 10 Desember 2015 di Jakarta, Choliq memaparkan jika Toll road yang terbaik adalah yang mangkrak. Ini dikarenakan toll road itu didesain 20 tahun silam. Sehingga jika konstruksinya dibuka pasti pasar.

Choliq juga menjelaskan jika kontak yang sudah dipegang oleh Waskita hingga bulan Januari 2016 sebesar Rp100 Triliun dan 70% diantaranya merupakan proyek jalan tol.

Ia juga menambahkan agar proyek jalan tol yang sudah didapatkan, diharapkan bisa rampung 100% pada tahun 2018.

Adapun beberapa proyek jalan tol yang mangkrak dan berhasil diakuisisi adalah Tol Pejagan-Pemalang, Tol Pasuruan-Probolinggo, dan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi.

Waskita Karya Optimis Kinerjanya Akan Membaik di Tengah Corona

Indonesia sudah memasuki bulan ke-7 sejak pertama kali kasus covid-19 berhasil teridentifikasi, tepatnya pada tanggal 2 Maret 2020. Tidak hanya memberikan dampak buruk bagi kesehatan saja, namun wabah yang berkepanjangan juga akan berdampak pada kinerja emiten konstruksi di tanah air. Salah satunya adalah PT Waskita Karya TBK atau yang kerap disingkat sebagai WSKT.

Didasarkan pada laporan keuangan tertanggal 30 Juni 2020 yang dipublikasikan secara luas, Waskita mencatatkan jika perolehan pendapatan usahanya mencapai angka Rp8,04 Triliun. Walaupun mengalami penurunan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan periode sebelumnya, pendapatan usaha perusahaan ini merupakan yang tertinggi dari 3 emiten BUMN Konstruksi lainnya.

EBITDA Rp1,2 Triliun, Kerugian Rp1,1 Triliun

Menurut data yang diolah dari Laporan Keuangan Waskita Karya per 30 Juni, emiten yang melantai di Bursa sejak tahun 2012 itu menuliskan Pajak, Laba Sebelum Beban Bunga, Amortisasi dan Depresiasi (EBITDA) sebesar Rp1,2 Triliun.

 Foto Taufik Hendra Kusuma

Pada salah satu pertemuan, Taufik Hendra Kusuma yang merupakan Director of Finance dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk menjelaskan, jika dari sisi operasionalnya, perusahaan Waskita tetap mampu mempertahankan profitabilitasnya di tengah pandemi.

Walau bisa masuk ke jajaran perusahaan dengan pendapatan tertinggi dan EBITDA positif, Waskita mencatatkan kerugian Rp1,1 Triliun. Taufik memaparkan jika kerugian itu disebabkan karena beban bunga investasi jalan tol yang cukup besar.

Lebih detailnya Ia mengungkapkan bahwa dalam bisnis jalan tol, siklus manajemen yang akan dihadapi oleh perusahaan konstruksi di awal masa operasi akan merugi, ini dikarenakan Lalu Lintas Harian Rata-Ratanya/LHR masih cukup rendah, padahal bunga pinjaman sudah mulai dibebankan. Disamping upaya peningkatan realisasi LHR, penggunaan strategi divestasi ruas tol yang sudah beroperasi kepada para investor menjadi salah satu langkah yang sedang diupayakan agar beban keuangan perusahaan bisa menurun.

PT Waskita Karya Memegang Proyek 16 Ruas Jalan Tol di Indonesia

Seperti yang sudah diketahui, Waskita memegang kepemilikan atas proyek 16 ruas jalan tol dengan total investasi senilai Rp150 Triliun, dan kini berada dalam proses divestasi beberapa ruas tol pada investor. Beberapa ruas yang dimaksud adalah Bekasi – Cawang – Kampung Melayu, Cibitung – Cilincing, serta ruas Trans Jawa yaitu Kanci – Pejagan dan Pejagan – Pemalang.

Foto Jalan Tol Proyek PT Waskita Karya Waskita Toll Road 2020

Anak perusahaan Waskita Karya di bidang jalan tol, yakni WTR atau PT Waskita Toll Road pada tanggal 31 Agustus 2020 sudah melakukan penandatanganan PPJB atau Perjanjian Pengikatan Jual Beli untuk pelepasan 30% kepemilikan Bekasi – Cawang – Kampung Melayu dengan Rp550 Miliar sebagai nilai transaksinya.

Lebih Lanjut Taufik menjelaskan jika Waskita menargetkan finalisasi transaksi pada bulan September atau Oktober tahun ini. Ia juga menambahkan bahwa jika semua program divestasi tol tahun ini bisa berjalan lancar, Waskita Karya diprediksikan akan bisa mengurangi utangnya sebesar Rp20-21 Triliun.

Taufik menutup pembicaraannya dengan mengungkapkan jika transaksi divestasi ruas tol itu membutuhkan waktu.  Pasalnya, proses tersebut membutuhkan waktu lebih dari 6 bulan akibat investor perlu melakukan due diligence. Disamping itu, ada beberapa persyaratan dari pemerintah yang harus dipenuhi.

Walau begitu, pihak waskita optimis jika program divestasi ini akan bisa berhasil. Sehingga kinerja di tahun depan juga akan lebih baik.

Waskita Memutuskan Buyback Saham, Berapa Nilainya?

Berdasarkan berbagai informasi yang tersebar, Waskita Karya akan melakukan buyback atau pembelian kembali untuk sahamnya dengan jumlah sebanyak-banyaknya, dengan maksimal Rp300 miliar. Hal ini sesuai dengan keterangan perusahaan pada keterbukaan informasi oleh BEI/ Bursa Efek Indonesia.

Diungkapkan pula jika nilai pembelian saham tidak akan melebihi 20% dari total modal yang disetorkan. Juga dengan ketentuan paling sedikit 7,5% saham dari modal yang disetorkan.

Proses pembelian saham ini dilakukan secara bertahap dalam waktu 3 bulan. Terhitung sejak 12 Maret hingga 12 Juni 2020. Pembelian saham kembali oleh PT Waskita Karya ini dilaksanakan berdasarkan pertimbangan matang dari pihak direksi perseroan melalui BEI.

Public Expose 2020 PT Waskita Karya

Pada tanggal 13 Oktober 2020, Taufik Hendra Kusuma sebagai Director of Finance PT Waskita Karya memberitahukan Bursa Efek Indonesia tentang rencana Public Expose 2020 melalui surat nomor 2060/WK/DIR/2020.

Dalam surat tersebut disebutkan bahwa Public Expose 2020 PT Waskita dijadwalkan tanggal 27 Oktober 2020 dari pukul 14.00 hingga selesai. Public Expose dilakukan melalui platform meeting Zoom.

Jika Anda ingin mengikuti Public Expose 2020 yang diselenggarakan oleh PT Waskita Karya silakan mendaftar melalui link ini.

Batas pendaftaran hanya sampai pukul 08.00 tanggal 27 Oktober 2020.

Referensi

Tinggalkan komentar