Mengetahui Dampak COVID-19 ke Ekonomi Indonesia

Virus corona (SARS-CoV-2), atau yang juga disebut dengan COVID-19 adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus ini bisa menyebabkan beberapa gangguan ringan pada sistem pernapasan, namun juga bisa menjadi penyebab kematian bagi penderitanya. Pertanyaannya, apa sih dampak COVID-19 ke ekonomi Indonesia?

Ya, COVID-19 yang terus mengganas tidak hanya menyerang kota Wuhan, China, tetapi kini sudah merebak dan menginfeksi banyak orang di berbagai dunia, termasuk Indonesia. Parahnya lagi, virus tersebut juga akan menjadi ancaman dan memukul perekonomian di Indonesia. Kira-kira apa dampak COVID-19 bagi perekonomian Indonesia? Simak selengkapnya disini!

Mengetahui Dampak COVID-19 ke Ekonomi Indonesia

Tak bisa dipungkiri COVID-19 yang merupakan salah satu virus yang ditetapkan oleh WHO, sebagai darurat kesehatan dunia membuat pertumbuhan perekonomian di Indonesia akan terganggu. Oleh karenanya, diperlukan solusi yang konkret dari pemerintah Indonesia. Nah, pada artikel berikut akan kami infokan beberapa dampak COVID-19 ke ekonomi Indonesia yang harus Anda tahu. Apa saja?

Perdagangan Loyo

Wuhan, China kena wabah COVID-19, Indonesia merana. Mungkin bisa dibilang demikian. Bisa dilihat sendiri pada data neraca perdagangan di Indonesia ke China per Januari 2020 dari BPS (Badan Pusat Statistik).

Nilai ekspor minyak dan gas (migas), serta non-migasMerosot hingga 12.07% menjadi USD 2.24 miliar
Nilai impor buah apel dan anggurMerosot hingga 2.71% menjadi USD 4 miliar

Faisal Basri yang merupakan Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan bahwa, China merupakan salah satu pengimpor minyak mentah terbesar, salah satunya dari Indonesia.

Artinya, jika impor migas China ke Indonesia mengalami penurunan sudah pasti yang demikian akan berdampak buruk bagi penerimaan negara. Belum lagi harga minyak mentah yang mengalamo penurunan drastis. Tentunya hal tersebut akan semakin menggerus transaksi perdagangan luar negeri dan akun lancar Indonesia.

Pariwisata Jadi Sepi

Tak bisa dipungkiri, sektor pariwisata menjadi salah satu yang paling ketar ketik akibat wabah COVID-19. Bagaimana para turis mau datang kalau pemerintah dari negara asalnya sudah menutup penerbangan dari atau menuju ke negara tersebut, begitu pun dengan Indonesia.

Padahal seperti yang diketahui, kunjungan turis China ke Indonesia misalnya, merupakan yang terbanyak ke-3 setelah wisman asal Singapura dan Malaysia. Buktinya, sejak bulan Desember 2019 kunjungan para turis mencapai 154.2 juta.  

Data dari UNWTO (World Tourism Organization), masyarakat China membelanjakan tidak kurang dari USD 277 miliar dari 150 juta perjalanannya ke luar negeri, dan yang demikian adalah yang terbesar di dunia.

Dari data Kemenkeu (Kementerian Keuangan), akibat adanya larangan tersebut membuat turis dari China yang datang ke Indonesia sudah pasti berkurang cukup drastis, dan kini tinggal kurang dari 500 orang. Artinya, jika di industri pariwisata sepi dan turis yang datang juga sangat sedikit maka pendapatan negara atau pun cadangan devisa dari sektor pariwisata berkurang.

Padahal seperti yang diketahui, cadangan devisa sangatlah penting, salah satunya sebagai alat stabilisasi mata uang suatu negara. Contoh sederhananya seperti berikut, apabila kurs rupiah sedang mengalami keterpurukan, maka BI (Bank Indonesia) akan segera melakukan intervensi dengan cadev. Tujuannya, untuk stabilkan nilai tukar mata uang Garuda.

REFERENSI

  • Begini Dampak Virus Corona ke Ekonomi RI, Ngeri-ngeri Sedap. Diakses 19 November 2020
  • Virus Corona – Gejala, Penyebab, dan Mengobati. Diakses 19 November 2020
  • Foto diambil dari situs finance.detik.com. Diakses 19 November 2020

Tinggalkan komentar